• Coretan Dari Negeri Senja
  • Doing The Best
  • Maroko Dirikan Sekolah Medis Berbasis Bahasa Inggris

Puisi Untuk Pak Tosari Widjaja



Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Namun, acap kali perpisahan dikambing hitamkan manakala waktu perpisahan itu datang, bukankah seharusnya pertemuan yang disalahkan? Pertemuanlah yang menyebabkan perpisahan.
Ada makna terpenting dalam sebuah hubungan kekeluargaan atau persaudaraan yang terkadang kita kerap melupakannya dan baru sadar ketika waktu perpisahan tiba. Yaitu moment-moment yang telah kita lakukan setelah pertemuan sampai sebelum datang perpisahan. Moment-moment yang mengajarkan kita arti kehidupan, bukan sekedar take and give, bukan sekedar mengendalikan ego, bukan sekedar toleransi tapi jauh lebih dalam dari itu semua.
Moment-moment itulah yang menjadikan keberadaan seseorang yang meninggalkan kita terasa dekat dihati walau terpisah raga, ruang dan waktu. Setiap tutur katanya, perilakunya, kedekatannya menjadi inspirasi dan penyemangat untuk membuka lembaran baru bagi yang ditinggalkan. Dan pada hakekatnya kita tidak berpisah karena adanya keterkaitan hati. Moment-moment itulah yang menjadikan kami serasa selalu dekat dengan Bpk Dubes Tosari Tujuhpuluh meski esok ruang dan waktu akan memisahkan kita.
Sebuah persembahan puisi berjudul "Teruntuk Engkau Pak Tosari" karya Risky Muhammad Hamzar. Meski suaranya kurang mendukung setidaknya bisa mewakili moment ini. 
KBRI Rabat, 7 November 2014.
read more →

Tak Peduli Lagi

Rasanya aku ingin sekali marah.. berteriak dan memaksamu untuk mengutarakan rasa yang tak dapat kau jelaskan. Aku ingin membongkar fikiranmu dan memasukan fikiranku agar kau mengerti inilah yang ku fikirkan. Bahwa aku tidak suka melihat manusia terbungkus kain suci tapi busuk hatinya. Tapi untuk apa juga aku harus marah, tanpa dijelaskanpun semuanya sudah jelas.
Lagian, itu tak mungkin aku lakukan, terlalu klise untuk diucapkan. Aku tak mengerti kenapa semua terlihat kelabu kini. Bayangan itu tak lagi nampak karena sama gelapnya. Aku nyaris tak dapat melihat apapun lagi. Mungkin fikiranku sekarang sedang kacau karena itu aku memutar fikiranku tanpa arah. Bagai bus yang tak bertujuan.Dan aku tersesat dalm fikiran ini . Tanggung jawab!
Lihatlah apa yang sudah kujalani ini..
jauh sudah aku melanggkah menggapai mimpi yang masih jauh disebrang sana. Kini langkahku agak terhenti. Dan aku pastikan tak kan terhenti. Tapi aku tak mampu berjalan . Dan semua itu karena aku sedang tersesat dalam pemikiran terkonyol dalam hidupku.
Satu per satu diriku berjatuhan bagai remah meja makan. Munggkinkah mengutip tiap butirnya kembali? Jatuh tanpa kusadari dan aku telah kehilangan diriku seutuhnya. Dan apakah yang dpat kuperbuat. Aku telah melangkah dan tak kan mundur karena itu aku akan membiarkan ia menari diatas penderitaan orang lain.
Mimpiku akan tetap menjadi tujuanku. Walau perih kurasakan kini aku tak peduli lagi..
read more →

Bertemu sang pemarah.


"Ahmak anta!!! Gak lihat apa, matamu ditaruh dimana?” itulah umpatan yang keluar dari seorang pemuda yang terinjak kakinya tanpa sengaja. Raut muka memerah, mata melotot, otot-otot mengencang segede tambang tapi sayang gak bisa lentur, justru malah mengeras seperti kawat.
Rasanya baru kali ini saya bertemu dengan orang arab segalak itu. Karena terinjak oleh sepatu pantofelku ketika hendak naik bus ia marah sejadi-jadinya. Hampir saja saya digaplok, untungnya saya sudah nunduk-nunduk dulan sambil minta maaf. Gak jadi deh hihihi...
Pada dasarnya amarah adalah manusiawi. Saya juga pernah marah. Mungkin kalau sikorban disuruh ngaku akan banyak komentar membajiri tulisan ini. Tapi, untungnya marah saya masih bisa terkendalikan jadi gak sampe ngotot dan maen fisik. Apalagi sampai ngomong sekenanya tanpa berfikir akibatnya, bahwa ucapannya bisa menimbulkan rasa sakit hati. Ingat lidah itu lebih tajam dari pisau loh... Hehe
Saya pikir semua tergantung bagaimana cara meresponnya. Kalau saya amati ekspresi teman-teman yang lagi marah lucu juga, ada yang menundukkan kepala ketika bertemu, ada yang cuma diam dan ada juga yang sampe gelap mata dan hati, sehingga kesadarannya terjajah oleh hawa nafsunya.
Reaksi itu biasanya muncul secara spontan ketika pertahanan dirinya tersudut. Jadi, seorang pemarah yang tidak bisa berdamai dengan lingkungan di luarnya hakekatnya muncul karena tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Saya kira inilah akar amarah yang menyebabkan seseorang lepas kendali. Jika dilacak lebih jauh, kenapa tidak bisa berdamai dengan diri sendiri? Tentu hal ini tidak gampang dijawab. Ada banyak factor sosiologis bagaimana sikap pemarah itu terbentuk. Tetapi juga ada factor spiritualitas, dimana seorang pemarah tidak mampu menginternalisasi sifat-sifat Tuhan dalam dirinya seperti sifat Pengasih dan Penyayang.
Kesimpulannya, jika seorang pemarah ingin keluar dari kungkungan sifat amarahnya, berdamailah dengan diri sendiri dengan mengontrol segenap pikiran, emosi, dan tindakan dalam kerangka kecerdasan hati. Nah di sinilah nilai-nilai spiritulitas (agama) yang menyejukkan hati menemukan relevansinya.
Ala kuli hal, alhamdulillah. Karena bertemu sang pemarah bisa buat status 
Bersama jeruk mandarin di Qoas. 23/11/2014.
read more →

Membincang Kematian

Ada berbagai pandangan mengenai kematian. Socrates, seorang filsuf yang hidup pada tahun 470 SM percaya bahwa tidak seorang yang hidup didunia dapat memahami kematian. Socrates meyakini bahwa kematian adalah tidur tanpa bermimpi atau sedang mengalami perjalanan jiwa kedunia lain. Socrates menyebutkan bahwa kematian merupakan pembekuan dan pemisahan jiwa dari badan.
Bagi para ahli filsafat, yang tugasnya memikirkan hakekat kebenaran, kematian adalah bukanlah hal yang menakutkan. Kebenaran hanya bisa diraih melalui jiwa. Melalui kematian, jiwa terbebas dan disisnilah kebenaran bisa diraih.
Lain Socrates, lain Heidegger, seorang filsuf asal Jerman yang lahir pada tahun 1889. Ia berpendapat bahwa kematian bukanlah perpisahan antara jiwa dan raga, melainkan peristiwa pengikatan antara keduanya secara total.
Kematian bukanalah akhir, bukan sesuatu yang terjadi dimasa yang akan datang. Menurut Heidegger, kematian menjadi tujuan hidup, bukan suatu ancaman sehingga kita perlu memikirkan dan mempersiapkan diri selama menjalani kehidupan.
Pandangan agama Kristen terhadap kematian menyerupai Socrates, para penganut Kristen meyakini bahwa kematian raga adalah pembebasan jiwa untuk hidup selamanya.
Kematian hanyalah ketidakhadiran raga dan kesempatan jiwa bersatu dengan Allah. Hidup adalah sebagian kecil dari cerita “kehidupan” demikian menurut Eknath Easwaran dalam bukunya Meneyelami Misteri Kematian.
Menurutnya, semua guru rohani mengajarkan bahwa hidup ini hanyalah satu bab kecil dalam buku tentang keabadian. Ketika tubuh akhirnya mati, tubuh akan berubah menjadi unsur-unsur pokoknya. Tetapi penghuninya, yaitu Diri Sejati (self) tidak akan mati. Tubuh yang mati bukanlah akhir cerita.
Seseorang menjadi tidak takut akan kematian ketika dirinya menemukan jati dirinya. Seperti pesan para guru Rohani, untuk menaklukkan kematian, hanya satu hal yang kita perlukan:
Kita harus bisa menemukan siapakah kita ini yang sesungguhnya, bukan tubuh jasmani yang bisa membusuk ini, melainkan diri sejati yang abadi, yang bersemayam didalam tubuh tetapi tidak mati tatkala tubuh mati.
read more →

‘’Three Questions’’

‘’Three Questions’’
-by Leo Tolstoy-
“Remember that there is only one important time and is Now. The present moment is the only time over which we have dominion. The most important person is always the person with whom you are, who is right before you, for who knows if you will have dealings with any other person in the future. The most important pursuit is making that person, the one standing at you side, happy, for that alone is the pursuit of life.”

Bermula dari obrolan ringan, sebuah kata yang tak pernah usang dan tak akan pernah basi untuk dibicarakan sepanjang zaman. Kita tidak bisa menghindar darinya, ia juga tak pernah bosan mengingatkan kita. Barulah ketika jiwa berpisah dari raga ia tak lagi hadir sebagai pengingat dan penyelamat yang  bisa membuat kita lebih baik. Ia hanya menjadi saksi atas sikap, tindakan dan perbuatan yang telah kita lakukan selama hidup didunia tanpa kenal kompromi. Dari awal perbincangan itu, perkenalan itu, sampai ahirnya aku menuliskan ini pun tak pernah lepas dari sebuah kata yang sangat berharga bagi kehidupan kita, kata itu adalah waktu.

Waktu adalah sebuah anugerah pemberian Tuhan yang sangat berharga, tak ternilai harganya oleh apapun yang ada didunia ini. Hanya orang sempit akalnya lah yang berani memutuskan kehidupannya dengan waktu tatkala terkena ujian atau cobaan. Ia tidak menyadari bahwa waktu adalah kesempatan emas untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah dilakukannya. Jika semua perbuatan dosa bisa terampuni kecuali syirik, menurutku ada satu dosa lagi yang tidak bisa terampuni yaitu orang yang telah menyia-nyiakan waktu. Ia tidak bisa mengulang waktunya kebelakang kecualai berdamai dengan waktu itu sendiri.

Namun, tidak bisa dipungkiri. Setiap orang yang ingin melakukan perubahan kearah yang lebih baik mengalami kesulitan dan kebingungan kapan harus memulaianya. Memikirkan hal apa yang pertamakali harus dilakukan untuk menebus kesalahannya. Kesalahan itu sendiri bersifat umum bahwa tak ada manusia terlahir didunia tanpa adanya masalah. Dari masalah itulah terkadang timbul kesalahan yang tanpa sadar dilakukan karena belum bisa menyikapi dan menemukan solusinya. Sehingga kesalahan itu beraneka ragam bentuknya sesuai dengan pelakunya dan cara penyelesaiannya pun berbeda-beda. Sejahat-jahat manusia, sekeras-keras hatinya pasti ada secuil rasa pengakuan dan penyesalan atas tindakan kebodohannya. Sampai kapan pun hati nurani tidak akan pernah bisa dibohongi, turuti hati nuranimu engkau pasti selamat, bohongi hati nuranimu insyaallah engkau pasti tersesat. Hanya saja butuh waktu yang tepat untuk memulainya. Kapan, dimana, dengan siapa dan apa yang harus dikerjakan?

Dari cerita hikmah yang berjudul three quetiosns, ditulis oleh Leo Tolstoy (1826-1910) aku menemukan jawaban atas kegelisahan sesorang yang hendak melakukan perubahan. Leo Tolstoy  dikenal sebagai sastrawan terbesar Rusia yang berpengaruh luas dalam peta sastra dunia. Ia juga seorang pemikir sosial dan moral terkemuka pada masanya. Karya karyanya yang bercorak realis dan bernuansa religius sarat dengan perenungan moral dan filsafat. Gagasan-gagasannya yang kontroversial dan tidak lazim di masa itu seringkali membuatnya dicap sebagai anarkis oleh kaum puritis. Ketika muda ia pernah bergabung di dalam dinas militer Tsar, namun setelah menikah ia menetap dan mengurusi para petani penggarap tanah milik keluarga Yasnaya Polyana. Di sanalah lahir anak-anaknya, juga novel-novel terbaiknya: War and Peace (Perang dan Damai) dan Anna Karenina.

Bahwa, waktu terbaik untuk melakukan sesuatu perubahan adalah sekarang. Tidak perlu melihat seberapa besar tindakan yang harus dikerjakan yang terpenting dimulai dan istiqomah. Jika butuh pendamping ajaklah orang-orang yang ada disekitar kita, rangkulah mereka. Dan ketika kita ingin memberikan kebaikan kepada orang lain maka dahulukanlah orang-orang yang ada disekitar kita. Apapun bentuknya, sesederhana apappun itu asal mereka bahagia itu adalah yang paling mulia. Dan kita bisa melakukan itu dalam kondisi apapun dan dimanapun kita berada tanpa terhalang oleh ruang dan waktu. Kebahagian yang kita berikan akan memberikan arti yang sangat bermkna ketimbang kita sibuk memikirkan kebaikan besar apa yang harus kita kerjakan.




read more →

Maroko Negeri Eksotis di Ujung Barat Dunia Islam



Judul Buku : Maroko Negeri Eksotis di Ujung Barat Dunia Islam
Penulis       : Muannif Ridwan, Hafidzul Umam, Kusnadi El Ghezwa dkk.
Editor         : Ardian Syam
Penerbit     : Jentera Pustaka
Cetakan     : I - Januari 2014
Tebal         : 295 Halaman
ISBN         : 978-602-14169-8-3
Peresensi  : Muannif Ridwan

Negeri Maghrib (Matahari terbenam), ketika kita mendengar kalimat ini pastinya akan tertuju ke Afrika Utara, tepatnya Kerajaan Maroko. Yah Maroko..., sebuah Negara Islam yang bermadzhab Maliki tulen di ujung barat dunia Islam. Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau wali songo ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Kini Maroko dikenal sebagai negara Arab yang gaul dengan nuansa Eropanya yang kuat, tetapi tak mau kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam. 

Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran Modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam. Wajar, jika berbagai aliran Islam banyak berkembang di negeri ini, seperti Islam “Salafi” atau yang biasa kita kenal dengan Islam garis keras.

Maroko juga dijuluki dengan “Negeri Tiga Budaya”. Dikarenakan tercampurnya akulturasi tiga budaya yang kental, yaitu budaya timur tengah, budaya Eropa, dan budaya Afrika. Letak geografis Maroko yang berada di benua Afrika menjadikan Maroko berbudaya Afrika, Kebudayaan Arab Timur Tengah yang diadopsi di sini menjadikan Maroko bernuansa Negeri Timur Tengah dan letak Maroko yang berdekatan dengan Eropa, membuatnya sangat eksotis dengan nuansa Eropanya.

Dari sisi pariwisata, Maroko merupakan negeri eksotis yang kaya dengan obyek wistanya, ada Gurun Sahara yang merupakan gurun terluas di Afrika, kemudian multaqol bahrain (pertemuan dua laut) antara laut Pasifik dan laut Mediterania, dimana tempat ini digambarkan dalam Firman Tuhan, Al-qur’an Surat Al-Rahman ayat 19-20, ada juga kota bersejarah, Fez yang disebut kota budaya dan tentunya masih banyak yang lainnya. Maka tak heran, jika Maroko merupakan salah satu Negara favorit wisatawan dunia yang sering mereka kunjungi.

Buku yang ditulis kader-kader muda NU ini juga mengungkap keeksotisan Maroko dari berbagai sisi; kebudayaan, religiusitas keagamaan, sejarah ulama, pariwisata dan peluang beasiswa yang diberikan kepada pelajar-pelajar dunia, termasuk Indonesia. 

Anda tertarik untuk membaca dan memiliki?
Untuk versi cetaknya, buku ini dapat diorder melalui: 
- Muannif Ridwan (Pin BB: 26ADE27C / Phone: 081261412680/ 087883854140)
- Hafidzul Umam (Pin BB: 23A5C770 / Phone: 08989909236)
Sedangkan untuk versi ebooknya dapat didownload di: wayangforce.co.id, getthescoop.com dan qbaca.com.

read more →
Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2PokS4tPJ