• Coretan Dari Negeri Senja
  • Doing The Best
  • Maroko Dirikan Sekolah Medis Berbasis Bahasa Inggris

Day 2: Suart Pengantar

Sambil menunggu surat pengantar permohonan visa dari KBRI Rabat, esok harinya aku pergi ke AMCI. Seperti berada disamping bom waktu, tinggal menunggu hitungan detik akan meluluhlantakan jantungku. Dua hari lalu pihak KBRI Rabat memberiku kabar bahwa pihak kementrian pendidikan Maroko telah mengirimkan ruhsoh ke AMCI, itu artinya aku sudah diterima dikampus baru yang aku tuju dan sudah terdaftar resmi.  

Hari itu aku mendatangi petugas AMCI untuk memastikan apakah berkasku sudah dikirm atau belum. Sengaja aku berangkat pagi biar mendapatkan nomer antrian diawal. Kebetulan ada salah satu temanku ingin melihat informasi pengumuan nama-nama yang berhak mendapatkan fasilitas tinggal di hay, sebuah tempat tinggal diperuntukkan khusus bagi mahasiswa asing. Sebuah keberuntungan jika bisa tinggal didalamnya, cukup membayar uang administrasi dan 700 dirham bisa tinggal selama setahun. Ini tentunya jauh lebih murah dibandingkan mahasiswa lain yang menyewa apartemen sendiri, pengeluaran perbulannya akan lebih sedikit dan bisa mengantongi sisa uang beasiswa lebih banyak. Hampir semua mahasiswa mendambakan bisa tinggal di hay, sayangnya tidak semuanya bisa mendapatkan kesempatan baik ini. Dari tiap Negara asing hanya dibatasi tiga orang.   

Sesampainya di AMCI kami berdu berpisah, Arif menuju tempat pengumuman dan aku langsung menuju ketempat pengambilan nomer antrian. Jarak antara AMCI dengan tempat pengumuman kurang lebih 100 meter. Pagi itu aku mendapatkan nomer antri 008, ku lihat nomer antri yang menggantung diatas meja para petugas menunjukan angka 007 itu artinya aku tidak harus menunggu lama hingga tiba giliranku dipanggil.

"Ting tong" suara bel itu mengundang giliran berikutnya maju. Angka 007 tadi berubah menjadi 008. Kini giliranku menanyakan nasibku yang telah lama terkatung-katung oleh selembar kertas bernama ruhsoh.

Kukeluarkan Paspor dari kantongku, dengan sigap petugas melihat nama dan nomer paspor.

"Ruhsos tahwil?" Tanya petugas.
"Na'am" jawabku singkat.

Ia kemudian mengcopy pasporku dan bergegas menuju kedalam ruangan. Tiga menit kemudian ia keluar.

"Ruhsohnya belum keluar" kata petugas sambil mengembalikan pasporku.
"Tapi kemaren kata pihak kementrian pendidikan sudah mengirimkan ruhsohku ke sini"
"Ok kalau begitu saya cek lagi, oya ruhsoh master atau ijazah?"
"Ijazah"
"Dari madinah ke madinah lain"
"Iya"
"Intadzir qolilan"
"Oke"

Dari gelagat wajah petugas tadi mataku menangkap isyarat tidak enak, kelihatannya dia sudah benar-benar memeriksa berkasku tapi belum ada. Tiga kali keluar masuk keruang dalam lagi-lagi cuma bilang intadzir qolilan. Jantungku berdetak kencang, semakin kencang. Bagaimana tidak, berkas yang aku minta seharusnya langsung dikasihkan tapi belum ditemukan. Ada dua kemungkinan, bisa jadi berkas sudah dikirim tapi petugas enggan memberikan karena aku pindah kampus yang berbeda instanai. Belum ada mahasiswa Indonesia memiliki pengalaman sepertiku. Dulu pernah ada salah satu mahasiswa yang perbah mencoba tapi ditengah jalan menyerah, disamping urusannya dipersulit juga tidak diperbolehkan. Pihak AMCI hanya mau mengurusi berkas yang masuk jika masih dibawah Ta'limul 'Ali (Menteri Pendidikan) dan enggan mengurusi berkas lain yang masuk dari instasi berbeda yaitu Wizarah Auqof (Menteri Perwakafan). Kebetulan aku pindahan dari wizarah auqof. Kedua, bisa jadi berkasku belum dikirim, itu hanya sekedar alasan pihak kementrian pendidikan saja yang tidak enak dengan pihak KBRI yang tiap hari selalu menanyakan perkembangan berkasku.

Dua jam sudah aku menunggu, sekitar satu jam lebih Arif menemaniku setelah selesai melihat pengumuman.

"Oya bagaimana dengan urusan kamu, jadi keterima di hay kan?" Tanyaku sambil menunggu panggilan  dari petugas.
"Tahun ini saya tidak bisa ndaftar hay lagi"
"Loh kenapa?"
"Gak tahu padahal tahun kemaren saya juga tidak bisa masuk, sekarang tidak bisa lagi."
"Tadi kamu sudah lihat pengumumannya?"
"Sudah dan nama saya tidak ada dalam deretan nama-nama yang berhak mendapatkan hay tahun ini"
"kamu sudah coba meloby ?"
"Sudah tapi tetap saja tidak bisa, tadi kata salah satu petugas bilang saya tidak mungkin mendapatkan hay dan menyuruhku mencoba lagi tahun depan"
"Terus gimana rencana kamu, apakah mau menetap di sekretariat PPI atau mau mencari kos-kosan baru?"
"Kayaknya saya harus mencari kos-kosan baru, saya butuh tempat yang nyaman dan tenang untuk menyelesaikan skripsiku. Kemungkinan bulan februari saya baru ada waktu luang untuk mencari rumah baru."
"Baguslah kalau kamu memang haru mencari rumah baru biar skripsimu selesai dan bisa wisuda tahun ini. Semoga semuanya dipermudah."
"Amin ya rabbala alamin"

Kulihat jam di hp ku menunjukkan pukul 12.30, sebentar lagi waktu istirahat tiba. Para mahasiswa dari Negara lain datang berbondong-bondong memenuhi kursi antrian dibelakangku. Papan nomer antrian yang menggantung diatas meja petugas terus berubah, sekarang sudah beralih ke antrian nomer 015, aku masih mematung diatas kursi hitam bersama temanku. Petugas yang sedari tadi mencari berkasku belum juga keluar. Aku mencoba menghubungi  pihak KBRI untuk meyakinkan apakah ruhsohku benar-benar sudah dikirim apa belum.

"Maaf Kus, tenyata kata pihak kementrian pendidikan ruhsoh kamu belum sampai di AMCI karena orang yang ditugasi mengantar berkas teraebut lagi cuti sampai tanggal lima Januari. Gak usah khawatir nanti saya coba hibungi pihak kampus supaya kamu bisa ikut pelajaran dulu." Kata Pak Dedy lewat Hp.

Ternyata benar firasatku kalau berkasku belum terkirim, entah sudah berapa kali lagi-lagi aku menerima kenyataan pahit ini.  Lama menanti tapi belum juga ada kabar yang aku harapkan.

Selang beberapa menit pak Dedy menelfhonku lagi, menanyakan nomer ketua jurusan dikampus. Rencana ia akan menghubunginya dan meminta supaya saya bisa ikut ujian. Ia juga menjelaskan kalau berkasku sebetulnya sudah keluar hanya saja belum bisa diambil sekarang.

"Tuttt...tutt.." Hp ku bergetar lagi. Dari layar kaca ada panggilan masuk dari Staff KBRI Rabat bagian Konsuler.

"Halo mas kusnadi apa kabar?"
"Alhamdulillah baik pak"
"Oya mas untuk surat pengantar permohonan visa kamu sudah bisa diambil hari ini, silahkan datang ke KBRI sebelum jam satu siang."
"Baik pak, terimakasih atas informasinya. Tapi saya masih di AMCI mungkin agak telat datangnya."
"Kalau begiti saya titipkan ke satpam saja, jadi kamu bisa ngambil langsung ke satpam."
"Ok pak, terimakasih atas bantuannya."


Saat itu juga ku putuskan pergi ke KBRI mengambil surat pengantar permohonan visa, aku dan Arif berpisah. Ia mengambil taxi menuju secretariat PPI dan aku menuju KBRI Rabat di jalan Tariq Zair Kilometer Sitah. Sebetulnya caling visa yang aku dapatkan dari KBRI Den Haag sudah cukup kuat untuk mempermudah pembuatan visa, karena ini adalah pengalaman pertamaku jadi aku meminta surat pengantar dari KBRI Rabat agar prosesnya lebih dipremudah lagi. Ide itu juga berdasarkan masukan dari kawan-kawan yang pernah mengurusi visa Schengen. Ahh.. apapun itu, semua hal berkaitan dengan pengurusan visa akan aku lakukan,  supaya niatku bersilaturrahim dengan kawan di Belanda bisa terwujud. Alhamdulillah semua berkas sudah ku kumpulkan, selamjutnya tinggal menyerahkan berkas tersebut ke konsulat Belanda di Place Abraham Lincoln, Quartier Tour Hasan, Rabat. untuk lebih lengkapnya bisa lihat disini: http://morocco-kvv.embassytools.com/
read more →

Day 1: Koreksi

Calling visa dari KBRI Den Haag
Hari itu, matahari dimusim dingin dengan gagahnya mentereng  diangkasa. Aku merunduk disamping tembok sambil membungkukkan kepala menunggu petugas KBRI tiba, disamping ruang istirahat tamu aku menghindar dari celah matahari musim dingin. Topi hitamku hanya mampu melindungi kepala, sementara leher dan punggungku tidak bisa menghindar dari pancaran sang surya.

Asap rokok terus mengepul menyeruakan aroma kehangatan, sebungkus rokok marquise adalah satu-satunya teman sejatiku. Kemana kaki melangkah ia selalu dalam apitan dua jariku. Lima menit kemudian aku masuk keruang tunggu KBRI, tak lama kemudian petugas mendatangiku dan membawa berkas permohonan yang aku ajukan yaitu surat pengantar pembuatan visa. Lima menit kemudian ia kembali datang membawa surat yang aku kasihkan.

"Maaf mas, tolong tanggalnya diperbaiki lagi yah" kata petugas sambil menunjuk tanggal, bulan dan tahun yang tertera dalam calling visa.

"Astaghfirullah" gumamku sambil menepuk jidat. Bukan hanya pada calling visa, surat permohonan yang aku buatpun keliru dalam penulisan tahun, seharusnya 2015 aku tulis 2014." Kacau, benar- benar kacau, kayaknya harapan untuk bisa pergi ke Belanda semakin menipis" Pikirku.

Sekuat tenaga berusaha menepis keraguan itu tapi tetap saja tidak bisa, melihat kenyataan yang ada dan beberapa persyaratan lainnya yang belum bisa dilengkapi semakin meyakinkanku bahwa semuanya tidak akan bisa berjalan lancar.

Mulai dari kabar acara yang mendadak, ditambah salah satu delegasi yang masa aktif paspornya akan berahir, banyaknya persyaratan yang belum dipenuhi dan lebih mencengangkan lagi ada kesalahan dalam penulisan bulan dan tahun pada calling visa.

Diluar pintu masuk kedua kakiku bingung menentukan arah, sejenak aku berdiri menarik nafas dalam-dalam. Tanpa pikir panjang aku nemutuskan kembali ke sekretariat PPI Maroko, setelah sampai di halte bus aku teringat ada janji dengan Mas Bowo di KBRI untuk mengambil titipan temanku. Kuurungan niatku kembali ke sekretariat PPI dan terpaksa kembali lagi ke KBRI. Sengaja aku tidak langsung masuk ke KBRI, aku lebih memilih berteduh dibawah pohon didepan ruang satpam. Tak banyak yang aku lakukan kecuali berdiri dan mondar-mandir sambil menuliskan kejadian ini untuk mengusir kegalauan.

Sambil menulis aku juga mengirimkan pesan via email ke kedutaan Den Haag, mengabarkan kejadian tadi. Aku meminta suapaya segera diperbaiki sehingga bisa mempercepat proses penguruasan visa. Jalanan sore itu tampak sepi, iringan awan gelap mengelantung dilangit. Suasana saat itu menambah kalut hatiku, sampai tak sadar orang yang aku tunggu sudah masuk kedalam kantor.

"Kusnadi, ngapain berdiri distu terus?" Tanya pak Kadir dengan logat bahasa indonesianya yang sedikit medok. Ia adalah warga Maroko yang sudah puluhan tahun lebih bekerja di KBRI Rabat.

"Menunggu Mas Bowo"
"Mas Bowo sudah ada didalam, silahkan masuk".
"Benar pak?"
"Iyaa, itu mobilnya disamping kamu".

Kegelisahan yang begitu membuncah membuat konsentrasiku hilang. Sampai-sampai suara mobil yang lewat didepanku tidak terdengar, bahkan ketika mobil itu terpakir disampingku pun aku tak melihatnya. Maklum ini adalah pertama kalinya aku mengurus visa ke Eropa, setiap kali mau mengurus harus banyak tanya dan pertimbangan dari kawan-kawan lain yang sudah pernah ke Eropa agar tidak terjadi kesalahan. Apalagi kabarnya pengurusan visa di konsulat Belanda sangat ketat jadi persyaratan harus benar-benar komplit sebelum diserahkan.

Usai Mas Bowo mengasihkan titipan buat temanku, ia memintaku bantuan untuk mencarikan hotel didekat kawasan Bab Ahad. Katanya tanggal 15 Januari akan ada 4 orang dari Indonesia yang akan berkunjung ke Maroko.

"Klentung.." Tiba-tiba ada satu pesan menyelusup ke emailku. Pesan itu datang dari Pak Nus Hasyim, salah satu staff kedutaan Den Haag. Judul pesan itu adalah "koreksi" dengan melampirkan file pdf satu lembar. Ternyata itu adalah koreksi calling visa yang aku minta.
"Alhamdulillah, tidak sampai dua jam sudah diperbaiki, kinerja yang luar biasa" ucapku lirih.


Segera aku print dan mengedit surat permohonan yang tadi keliru. Ku keluarkan stempel dari tas gendongku, ku buka kotak tinta biru dalam bungkusan kresek hitam yang kutaruh didalam tasku. Setelah menyetempel langsung aku kasih tanda tangan dan menyerahkan surat permohonan tersebut ke petugas bagian konsuler. Petugaspun terlihat kaget, pasalnya dalam waktu sesingkat itu pihak kedutaan Den Haag sudah memperbaikinya. Setengah jam menunggu ahirnya jadi juga surat pengantar dari KBRI Rabat. Sore itu, aku langsung bergegeas menuju halte bus menerobos hujan rintik-rintik, meski surat pengantar dari KBRI Rabat bia kuambil besok hari hatiku sedikit plong karena sudah mendapatkan surat keramat, besok tinggal meluncur ke konsulat Belanda didekat area makam Raja Mohammed V. Terimakasih ya Allah .:)
read more →

Puisi Untuk Pak Tosari Widjaja



Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Namun, acap kali perpisahan dikambing hitamkan manakala waktu perpisahan itu datang, bukankah seharusnya pertemuan yang disalahkan? Pertemuanlah yang menyebabkan perpisahan.
Ada makna terpenting dalam sebuah hubungan kekeluargaan atau persaudaraan yang terkadang kita kerap melupakannya dan baru sadar ketika waktu perpisahan tiba. Yaitu moment-moment yang telah kita lakukan setelah pertemuan sampai sebelum datang perpisahan. Moment-moment yang mengajarkan kita arti kehidupan, bukan sekedar take and give, bukan sekedar mengendalikan ego, bukan sekedar toleransi tapi jauh lebih dalam dari itu semua.
Moment-moment itulah yang menjadikan keberadaan seseorang yang meninggalkan kita terasa dekat dihati walau terpisah raga, ruang dan waktu. Setiap tutur katanya, perilakunya, kedekatannya menjadi inspirasi dan penyemangat untuk membuka lembaran baru bagi yang ditinggalkan. Dan pada hakekatnya kita tidak berpisah karena adanya keterkaitan hati. Moment-moment itulah yang menjadikan kami serasa selalu dekat dengan Bpk Dubes Tosari Tujuhpuluh meski esok ruang dan waktu akan memisahkan kita.
Sebuah persembahan puisi berjudul "Teruntuk Engkau Pak Tosari" karya Risky Muhammad Hamzar. Meski suaranya kurang mendukung setidaknya bisa mewakili moment ini. 
KBRI Rabat, 7 November 2014.
read more →

Tak Peduli Lagi

Rasanya aku ingin sekali marah.. berteriak dan memaksamu untuk mengutarakan rasa yang tak dapat kau jelaskan. Aku ingin membongkar fikiranmu dan memasukan fikiranku agar kau mengerti inilah yang ku fikirkan. Bahwa aku tidak suka melihat manusia terbungkus kain suci tapi busuk hatinya. Tapi untuk apa juga aku harus marah, tanpa dijelaskanpun semuanya sudah jelas.
Lagian, itu tak mungkin aku lakukan, terlalu klise untuk diucapkan. Aku tak mengerti kenapa semua terlihat kelabu kini. Bayangan itu tak lagi nampak karena sama gelapnya. Aku nyaris tak dapat melihat apapun lagi. Mungkin fikiranku sekarang sedang kacau karena itu aku memutar fikiranku tanpa arah. Bagai bus yang tak bertujuan.Dan aku tersesat dalm fikiran ini . Tanggung jawab!
Lihatlah apa yang sudah kujalani ini..
jauh sudah aku melanggkah menggapai mimpi yang masih jauh disebrang sana. Kini langkahku agak terhenti. Dan aku pastikan tak kan terhenti. Tapi aku tak mampu berjalan . Dan semua itu karena aku sedang tersesat dalam pemikiran terkonyol dalam hidupku.
Satu per satu diriku berjatuhan bagai remah meja makan. Munggkinkah mengutip tiap butirnya kembali? Jatuh tanpa kusadari dan aku telah kehilangan diriku seutuhnya. Dan apakah yang dpat kuperbuat. Aku telah melangkah dan tak kan mundur karena itu aku akan membiarkan ia menari diatas penderitaan orang lain.
Mimpiku akan tetap menjadi tujuanku. Walau perih kurasakan kini aku tak peduli lagi..
read more →

Bertemu sang pemarah.


"Ahmak anta!!! Gak lihat apa, matamu ditaruh dimana?” itulah umpatan yang keluar dari seorang pemuda yang terinjak kakinya tanpa sengaja. Raut muka memerah, mata melotot, otot-otot mengencang segede tambang tapi sayang gak bisa lentur, justru malah mengeras seperti kawat.
Rasanya baru kali ini saya bertemu dengan orang arab segalak itu. Karena terinjak oleh sepatu pantofelku ketika hendak naik bus ia marah sejadi-jadinya. Hampir saja saya digaplok, untungnya saya sudah nunduk-nunduk dulan sambil minta maaf. Gak jadi deh hihihi...
Pada dasarnya amarah adalah manusiawi. Saya juga pernah marah. Mungkin kalau sikorban disuruh ngaku akan banyak komentar membajiri tulisan ini. Tapi, untungnya marah saya masih bisa terkendalikan jadi gak sampe ngotot dan maen fisik. Apalagi sampai ngomong sekenanya tanpa berfikir akibatnya, bahwa ucapannya bisa menimbulkan rasa sakit hati. Ingat lidah itu lebih tajam dari pisau loh... Hehe
Saya pikir semua tergantung bagaimana cara meresponnya. Kalau saya amati ekspresi teman-teman yang lagi marah lucu juga, ada yang menundukkan kepala ketika bertemu, ada yang cuma diam dan ada juga yang sampe gelap mata dan hati, sehingga kesadarannya terjajah oleh hawa nafsunya.
Reaksi itu biasanya muncul secara spontan ketika pertahanan dirinya tersudut. Jadi, seorang pemarah yang tidak bisa berdamai dengan lingkungan di luarnya hakekatnya muncul karena tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Saya kira inilah akar amarah yang menyebabkan seseorang lepas kendali. Jika dilacak lebih jauh, kenapa tidak bisa berdamai dengan diri sendiri? Tentu hal ini tidak gampang dijawab. Ada banyak factor sosiologis bagaimana sikap pemarah itu terbentuk. Tetapi juga ada factor spiritualitas, dimana seorang pemarah tidak mampu menginternalisasi sifat-sifat Tuhan dalam dirinya seperti sifat Pengasih dan Penyayang.
Kesimpulannya, jika seorang pemarah ingin keluar dari kungkungan sifat amarahnya, berdamailah dengan diri sendiri dengan mengontrol segenap pikiran, emosi, dan tindakan dalam kerangka kecerdasan hati. Nah di sinilah nilai-nilai spiritulitas (agama) yang menyejukkan hati menemukan relevansinya.
Ala kuli hal, alhamdulillah. Karena bertemu sang pemarah bisa buat status 
Bersama jeruk mandarin di Qoas. 23/11/2014.
read more →

Membincang Kematian

Ada berbagai pandangan mengenai kematian. Socrates, seorang filsuf yang hidup pada tahun 470 SM percaya bahwa tidak seorang yang hidup didunia dapat memahami kematian. Socrates meyakini bahwa kematian adalah tidur tanpa bermimpi atau sedang mengalami perjalanan jiwa kedunia lain. Socrates menyebutkan bahwa kematian merupakan pembekuan dan pemisahan jiwa dari badan.
Bagi para ahli filsafat, yang tugasnya memikirkan hakekat kebenaran, kematian adalah bukanlah hal yang menakutkan. Kebenaran hanya bisa diraih melalui jiwa. Melalui kematian, jiwa terbebas dan disisnilah kebenaran bisa diraih.
Lain Socrates, lain Heidegger, seorang filsuf asal Jerman yang lahir pada tahun 1889. Ia berpendapat bahwa kematian bukanlah perpisahan antara jiwa dan raga, melainkan peristiwa pengikatan antara keduanya secara total.
Kematian bukanalah akhir, bukan sesuatu yang terjadi dimasa yang akan datang. Menurut Heidegger, kematian menjadi tujuan hidup, bukan suatu ancaman sehingga kita perlu memikirkan dan mempersiapkan diri selama menjalani kehidupan.
Pandangan agama Kristen terhadap kematian menyerupai Socrates, para penganut Kristen meyakini bahwa kematian raga adalah pembebasan jiwa untuk hidup selamanya.
Kematian hanyalah ketidakhadiran raga dan kesempatan jiwa bersatu dengan Allah. Hidup adalah sebagian kecil dari cerita “kehidupan” demikian menurut Eknath Easwaran dalam bukunya Meneyelami Misteri Kematian.
Menurutnya, semua guru rohani mengajarkan bahwa hidup ini hanyalah satu bab kecil dalam buku tentang keabadian. Ketika tubuh akhirnya mati, tubuh akan berubah menjadi unsur-unsur pokoknya. Tetapi penghuninya, yaitu Diri Sejati (self) tidak akan mati. Tubuh yang mati bukanlah akhir cerita.
Seseorang menjadi tidak takut akan kematian ketika dirinya menemukan jati dirinya. Seperti pesan para guru Rohani, untuk menaklukkan kematian, hanya satu hal yang kita perlukan:
Kita harus bisa menemukan siapakah kita ini yang sesungguhnya, bukan tubuh jasmani yang bisa membusuk ini, melainkan diri sejati yang abadi, yang bersemayam didalam tubuh tetapi tidak mati tatkala tubuh mati.
read more →
Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2PokS4tPJ