• Coretan Dari Negeri Senja
  • Doing The Best
  • Maroko Dirikan Sekolah Medis Berbasis Bahasa Inggris

Kursus Bahasa Arab Gratis di Qalam wa Lawh - Rabat

Beasiswa ini diberikan kepada seluruh pelajar di dunia yang ingin belajar bahasa Arab di Qalam Wa Lawh Center yang berlokasi di Rabat, Maroko. Qalam Wa Lawh Center adalah sebuah institusi Bahasa Arab ternama di Ibukota Rabat. Institusi ini telah diakreditasi oleh Brookhaven College (comprehensive American community college) di bawah lembaga Southern Association of Colleges and Schools (www.sacscoc.org) dan merupakan anggota The American Association of Teachers of Arabic.

Kurikulum yang diajarkan di Qalam Center sesuai dengan The American Council for the Teaching of Foreign Languages. Terhitung sejak 2009, Qalam Center telah menerima 700 mahasiswa dari Amerika, Eropa, Asia Timur dan Afrika Selatan. Banyak dari mahasiswa tersebut menerima beasiswa Ibn Battuta untuk belajar bahasa Arab secara gratis.

Program ini dibuka setiap tahun sebanyak 4 sesi sesuai dengan jumlah musim yang ada di Maroko: fall, winter, spring, dan summer. Beasiswa ini terbagi menjadi dua, full scholarship dan partial scholarship untuk setiap sesinya. Full scholarship berupa beasiwa untuk program dan akomodasi yang diberikan untuk 5 (lima) orang dan partial scholarship berupa beasiswa untuk program saja yang diberikan untuk 10 (sepuluh) orang.

Biasanya berkas yang diminta adalah formulir pendaftaran, essay, transkip nilai, tiga surat rekomendasi yang salah satunya harus dari profesor bahasa arab, dan passport. Mengenai prosedur pendaftarannya bisa di-update melalui website berikut ini: www.qalamcenter.com
read more →

Maulidan bersama Gus Mus di Den Haag

Bersama Gus Mus dan Prof. Martin di Masjid Al Hikmah-Den Haag
Gus Mus : Manusia yang memanusiakan manusia

Jika  dulu ketika saya ingin ngaji dengan Gus Mus hanya bisa mendengarkan  lewat radio dan youtube. Melihat sosoknya yang meneduhkan lewat akun facebooknya dan lewat beberapa fotonya yang bertaburan di media sosial. Membaca petikan-petikan kata mutiaranya lewat tweeter dan websitenya. Hari itu saya mendapatkan kesempatan yang luar biasa karena bisa ngaji langsung dan tabarukan dengan Gus Mus di masjid Al Hikmah, kota Den Haag. Sebuah sejarah baru bagi saya, dalam perjalanan singkat yang belum pernah terencanakan sebelumnya.

Perjalanan yang terjadi begitu saja ini membuatku masih tidak percaya meski sudah sampai ke tempat tujuan. Bismillah, setiap kali saya ingin mengerjakan sesuatu tak lupa saya membaca bismillah. Karena hanya dengan pertolongan Nya lah semua aktifitas yang saya jalani bisa berjalan lancar. Kami tidak memilki daya  apa-apa tanpa Nya. Saya jadi teringat salah satu guruku dipesantren, beliau sangat mengajurkan para santri membaca bismillah sebelum melakukan aktifitasnya, baik dalam belajar, bekerja atau aktifitas lainnya. Kalimat sederhana namun memilki makna dalam itu selalu menjadi senjata utamaku sebelum memulai aktifitas, saya yakin bentuk pekerjaan apapun jika diawali dengan bismillah akan memiliki nilai positif. Grup WhatsApp (WA) yang saya buat pun judulnya bismillah, grup tersebut saya buat untuk mematangkan perisapan sebelum berangkat ke Belanda. Dengan menyebut nama Allah disertai niat tulus bersilaturrahim dengan kawan-kawan di Belanda ndilalah saya beserta Rifqi, mas Alvian, mas Aiman prosesnya dipermudah dan dilancarkan perjalanannya hingga akhirnya bisa tabarukan dengan Gus Mus.

Selama di Belanda saya bertemu dengan Gus Mus di dua kota.  Pertama di Den Haag, saya bertemu Gus Mus dalam sebuah sarasehan betajuk Islam Nusantara dengan Pengajian Maulid Nabi Muhammad, SAW. Di sarasehan, beliau menjadi salah satu keynote speaker bersama dengan Prof. Martin dari Universitas Utrecht, orang Belanda pakar Islamologi yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Dan beberapa pembicara lainya seperti Kyai Hambali, sesepuh kyai NU di Belanda yang bersama Gus Dur mendirikan Persatuan Pelajar Muslim Eropa (PPME) 45 tahun silam dan Pak Sudirman Moentari, kyai dari Suriname yang mbahnya asli Kediri, Jawa Timur. Sebetulnya saya mendapat kesempatan menjemput kedatangan Gus Mus di Airport Schipol, karena saat itu badan saya kurang fit ahirnya hanya mas Alvian yang bisa ikut njemput bersama mas Reza dan Mas Fajri serta beberapa kawan lainnya.

Sementara di Amsterdam, saya bertemu beliau dalam pengajian Maulid Nabi Muhammad dan Pelantikan Pengurus baru PCINU Belanda periode 2015-2017, dan sesi khusus Gus Mus dengan pengurus PCINU Eropa dan Maroko. Tahun ini spesial sekali buat saya, bisa merayakan Maulid Nabi dua kali. Rasanya, saya berada dikampung halaman nan jauh disana, dimana kebersamaan dan keakraban masyarakat Indonesia di Belanda begitu terasa. Di Maroko, saya juga sering mengikuti acara maulid Nabi yang diadakan oleh warga setempat tapi, suasananya sangat berbeda dengan perayaan maulid Nabi di Belanda. (serasa sudah pulang kampung :D). Maklumlah, namanya juga hidup di negeri rantau, ketika berada ditengah-tengah masyarakat Indonesia yang penuh dengan keakraban dan kehangatan rasanya seperti di tanah air.

Di dua kota ini, saya juga bertemu dengan teman-teman baru dan orang-orang hebat yang memiliki pengetahuan, keilmuan, wawasan dan cakrawala berfikir yang luas. Dari mereka banyak sekali ilmu dan pelajaran yang bisa saya petik dan mampu menginspirasi hidupku. Tidak hanya dari kota-kota di Belanda tapi juga dari, Jerman,  Belgia, UK dan beberapa kyai, ulama, ilmuwan. Dan diantara yang paling berkesan adalah bisa bertemu dan ngaji langsung bareng Gus Mus (KH. Musthofa Bisri). Tidak hanya menyerap ilmu, tapi juga sempat mencium telapak tangan beliau dan didoakan oleh beliau.



Di Indonesia saya belum pernah ketemu langsung dengan beliau, hanya penikmat tulisan-tulisan beliau yang adem. Seperti biasa, di pengajian, Gus Mus tidak suka banyak ndalil dan pesan-pesan beliau yang berisi nilai-nilai universal. Dalam satu kalimat, beliau mendeskripsikan kanjeng Nabi sebagai manusia yang paling memanusiakan manusia. Nabi yang sangat humanis, yang karenanya ajaranya sangat relevan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan menjadi rahmat buat semua (rahmatalil’alamin). Bukan ajaran eksklusif seperti yang dikesankan beberapa kelompok dari kita.

‘’Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang manusia yang MENGERTI manusia dan MEMANUSIAKAN manusia; sehingga kita, -umatnya-, pun enak mengikutinya, asal kita tetap manusia. Kini banyak  pemimpin yang tampaknya manusia, tapi karena tidak mengerti manusia atau tidak memanusiakan manusia, sering kali justru membuat susah manusia; termasuk para pengikutnya sendiri yang manusia.’’ Gus Mus.
Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Hikmah-Den Haag
Beliau juga memberikan amalan, usaha batin. Menurut beliau, selain usaha dohir, dalam usaha menggapai sesuatu kita juga perlu usaha batin. Amalan pertama adalah hendaknya setiap hari, sedikitnya kita membaca istighfar 100 kali dan memperbanyak baca sholawat. Dalam berdoa, hati kita harus hadir. Karena Allah tidak akan mendengar doa orang yang hatinya lupa. Dan sebelum berdoa, beliau mengajak terlebih dahulu membaca alfatihah dengan ayat waiyyakanasta’in dibaca 11 kali sambil membatin hajat yang kita inginkan.
read more →

Pengalaman Ngurus Visa ke Belanda



Day 1 
Visa Schengen Belanda
Tidak sedikit yang bilang pengurusan buat visa Schengen itu tidak gampang alias ribet, yah emang super ribet karena persyartannya super ketat. Hal ini yang membuatku ketar-ketir ketika ingin mengurus pembuatan visa Schengen, apalagi ini adalah pengalaman pertamaku, mumpung belum tersesat dijalan jadi sebelum menyerahkan berkas-berkas yang dibutuhkan saya harus banyak bertanya dan membaca tulisan yang berkaitan dengan pengurusan visa Schengen. Setelah saya tanya mbah google banyak sekali tulisan para traveler yang menceritakan pengalamannya ketika hendak keliling Eropa. Kebanyakan dari mereka lebih memilih kedutaan Belanda sebagai tempat favorit mendapatkan visa Schengen, asalkan persyaratan komplit dengan mudah akan mendapatkan visa schengen dengan waktu yang sangat singkat sekali. 

Secara garis besar, paspor biasa Indonesia bebas visa ke 9 negara anggota ASEAN, Hong Kong, Macau, dan Maldives. Itu yang deket-deket aja. Kalo mau yang jauhan, ada Maroko, Seychelles, dan beberapa negara di Amerika Selatan seperti Peru. Saya sendiri kurang hafal, jadi silakan tanya sendiri sama mbah Google. Yang jelas dibanding negara tetangga macem Malaysia, Singapura, dan Brunei kita kalah jauh. Sama Thailand aja kita lebih sedikit jumlah negara yang membebaskan visa.

Meski demikian saya tetap maju terus pantang mundur demi menghadiri undangan sekaligus silaturrahim dengan kawan-kawan di Belanda. Kebetulan waktu itu saya sudah mendapatkan calling visa dari KBRI Den Haag jadi mau tidak mau harus diurus. Sangat tidak enak dan sangat disayangkan jika kesempatan itu dilewatksn begitu saja. Kalo ngeluh terus bisa-bisa malah nggak pergi sama sekali *kedip-kedip*. 

Sekedar informasi, untuk bisa ke negara-negara Eropa diperlukan sebuah visa yang dinamakan Schengen Visa. Visa ini dapat digunakan untuk datang ke banyak negara yang tergabung ke Schengen Visa ini. Kenapa saya sebut Schengen, bukan European Union (Uni Eropa)? Karena ada negara Uni Eropa (Inggris/UK) yang visanya beda sendiri, sementara ada negara non-EU (misal: Swiss) yang bisa dikunjungi dengan Visa Schengen. Ribet ya? Emang. Intinya, kalo mau ke Inggris butuh visa yang berbeda dengan mayoritas negara Eropa lainnya. Visa Schengen ini merupakan salah satu momok bagi traveler asal Indonesia karena ribet untuk pengurusannya.

Sebagai catatan bagi kawan-kawan yang ingin jalan-jalan ke Eropa, untuk ngurus visa Schengen, kalian harus niat dulu dan sudah memutuskan buat ke Eropa. Jangan cuma karena iseng terus akhirnya ngurus visa Schengen, yaa… Sayang uangnya. Kalo sudah ada niatnya, pastiin juga kondisi finansial memadai. Eropa itu nggak murah kaya Maroko, jadi pasti butuh dana yang lebih besar. Kalo sudah siap, baru deh persiapan untuk bikin visanya. Pengalaman saya selama di empat Negara cukup menguras isi dompet, ketika sampai di Spanyol saya sempat kehabisan uang. Untungnya ada kawan yang mau minjemin uang buat bayar transportasi lewat online. Alhamdulillah bisa bernafas lagi..hehe.. Ok langsung saja kita kembali ke pembahasan awal.

"Kapan saya harus bikin visa?"
Sebelum mengurus visa, saya mendapat informasi dari KBRI Den Haag untuk segera mendatangi Konsulat Belanda di Maroko tepatnya No 2, Place Abraham Lincoln, Quartier Tour Hassan-Rabat dengan membawa:
1. Pasphoto terbaru 2 lembar 4x6 (sesuai ketentuan).
2. Boocking ticket.
3. Asuransi perjalanan.
Selanjutnya mengisi form permohonan visa serta memenuhi persyaratan lainnya yang dibutuhkan. Saya dan dua temenku mas Alvian dan Rifqi mendapatkan calling visa pada tanggal 29 Desember 2014, sementara acara yang akan kami hadiri mulai tanggal 15-19 Januari 2015. Jadi waktu untuk pengurusan visa Cuma 18 hari. Ketika kabar ini saya sampaikan ke kawan-kawan yang pernah buat visa schengen mereka memintaku cepat-cepat mendatangi Konsulat Belanda dan memenuhi berkas-berkas lain yang dibutuhkan. Ada yang bilang, waktu pengurusan visa sebelum hari keberangkatan biasanya 90 hari, ada yang bilang sebulan dan paling mepet dua minggu. Itupun kata mereka baiknya sebelum ke Konsulat Belanda semua berkas harus sudah komplit biar langsung diproses. Yah emang benar, jika semua berkas yang diminta sudah komplit prosesnya semakin cepat. Namun karena setiap konsulat negara Eropa memiliki kebijakan masing-masing sayapun bingung mana yang harus didahulukan, antara mendatangi konsulat Belanda dulu terus kalau ada berkas yang kurang menyusul atau mengunpulkan berkas-berkas dulu baru ke Konsulat Belanda biar hari itu juga langsung diproses. Dari pada bingung-bingung, esok harinya tanggal 30 Desember 2014 saya pergi ke Konsulat Belanda. Sayang, ketika sampai disana pintu masuknya ditutup dan ada sebuah pengumuman ditempel dekat pintu bahwa pengurusan visa ke Belanda untuk sementara diliburkan mulai tanggal 30 Desember-5 Januari 2015. Kata satpam, sebelum menyerahkan berkas saya harus buat appoinement dulu lewat website resminya dan mengcopy waktu yang telah diberikan, tanpa itu katanya tidak bisa masuk. Kemudian iapun memberikan alamat websitenya, bisa dilihat disini: https://morocco-kvv.embassytools.com/

Jika tanggal 6 Januari baru dibuka berarti waktu yang tersisa untuk mengurus visa tinggal 10 hari. Dari situ saya langsung tambah ketar ketir karena, kata temenku minimal aplay visa itu dua minggu sebelum keberangkatan. Setelah saya buka website resminya ternyata tidak ada slot yang tersisa, muai tanggal 6-15 Januari semua sudah full kecuali tanggal 8 Januari ada dua slot kosong mulai jam 09-11 siang. Daripada tidak bisa mengurus samasekali ahirnya saya buat appoinement dihari itu. Saya semakin tidak yakin dan pesimis bakal dapet visa. Waktu yang tersisa jika dihitung mulai tangal 8-14 tinggal satu minggu. Informasi tersebut langsung saya sampaikan ke KBRI Den Haag lewat email, saat itu juga langsung mendapat respon dari pak Nur Hasyim (Salah satu petugas KBRI Den Haag yang membantu kami mengurus visa). Beliau menyarankan agar saya menelfhon konsulat Belanda terlebih dahulu untuk meminta waktu khusus. Tanggal 1 Januari 2015 beliau mengabari katanya sudah melayangkan surat undangan tersebut ke Konsulat Belanda dan sudah menghubungi konsulernya bernama dhr. Gerard van de Wetering. 

Selagi masih ada waktu tersisa saya terus mencari informasi dan alternatif lain supaya prosesnya bisa dipercepat. Kebetulan ada kenalan baru dari FB, namanya Nathalia. Dia menetap di Bali tapi memilki garis keturunan Belanda, ibunya dari Jawa dan ayahnya dari Belanda. Dia juga memilki banyak keluarga di Belanda. Meski ada peluang dan kemudahan pindah warga negara Belanda tapi dia lebih memilih tinggal di Indonesia dengan memegang paspor hijau. Dia juga bercerita sering bolak-balik ke Belanda. Katanya waktu applay visa minimal seminggu sebelum hari keberangkatan dengan catatan semua persyartan sudah komplit. Dia juga menyarankan untuk meminta bantuan pihak KBRI Rabat mengubungi Konsulat Belanda atau jika tidak bisa minimal mendapatkan surat pengantar dari KBRI Rabat untuk memperkuat calling visa dari KBRI Den Haag. Kabar tersebut membuatku sedikit lega. Informasi tersebut langsung saya sampaikan ke mas Alvian dan Rifqi. Ahkirnya kami bertiga membagi tugas. Saya yang mengurus surat pengantar dari KBRI Rabat, Rifqi mencari tiket pesawat yang murah dan mas Alvian yang menghubungi Konsulat Belanda.

Bersambung......:))) 

Day 2: 
http://seribubenteng.blogspot.com/2015/02/day-2-suart-pengantar-kbri-rabat.html
read more →

Day 3: Suart Pengantar

Sambil menunggu surat pengantar permohonan visa dari KBRI Rabat, esok harinya aku pergi ke AMCI. Seperti berada disamping bom waktu, tinggal menunggu hitungan detik akan meluluhlantakan jantungku. Dua hari lalu pihak KBRI Rabat memberiku kabar bahwa pihak kementrian pendidikan Maroko telah mengirimkan ruhsoh ke AMCI, itu artinya aku sudah diterima dikampus baru yang aku tuju dan sudah terdaftar resmi.  

Hari itu aku mendatangi petugas AMCI untuk memastikan apakah berkasku sudah dikirm atau belum. Sengaja aku berangkat pagi biar mendapatkan nomer antrian diawal. Kebetulan ada salah satu temanku ingin melihat informasi pengumuan nama-nama yang berhak mendapatkan fasilitas tinggal di hay, sebuah tempat tinggal diperuntukkan khusus bagi mahasiswa asing. Sebuah keberuntungan jika bisa tinggal didalamnya, cukup membayar uang administrasi dan 700 dirham bisa tinggal selama setahun. Ini tentunya jauh lebih murah dibandingkan mahasiswa lain yang menyewa apartemen sendiri, pengeluaran perbulannya akan lebih sedikit dan bisa mengantongi sisa uang beasiswa lebih banyak. Hampir semua mahasiswa mendambakan bisa tinggal di hay, sayangnya tidak semuanya bisa mendapatkan kesempatan baik ini. Dari tiap Negara asing hanya dibatasi tiga orang.   

Sesampainya di AMCI kami berdu berpisah, Arif menuju tempat pengumuman dan aku langsung menuju ketempat pengambilan nomer antrian. Jarak antara AMCI dengan tempat pengumuman kurang lebih 100 meter. Pagi itu aku mendapatkan nomer antri 008, ku lihat nomer antri yang menggantung diatas meja para petugas menunjukan angka 007 itu artinya aku tidak harus menunggu lama hingga tiba giliranku dipanggil.

"Ting tong" suara bel itu mengundang giliran berikutnya maju. Angka 007 tadi berubah menjadi 008. Kini giliranku menanyakan nasibku yang telah lama terkatung-katung oleh selembar kertas bernama ruhsoh.

Kukeluarkan Paspor dari kantongku, dengan sigap petugas melihat nama dan nomer paspor.

"Ruhsos tahwil?" Tanya petugas.
"Na'am" jawabku singkat.

Ia kemudian mengcopy pasporku dan bergegas menuju kedalam ruangan. Tiga menit kemudian ia keluar.

"Ruhsohnya belum keluar" kata petugas sambil mengembalikan pasporku.
"Tapi kemaren kata pihak kementrian pendidikan sudah mengirimkan ruhsohku ke sini"
"Ok kalau begitu saya cek lagi, oya ruhsoh master atau ijazah?"
"Ijazah"
"Dari madinah ke madinah lain"
"Iya"
"Intadzir qolilan"
"Oke"

Dari gelagat wajah petugas tadi mataku menangkap isyarat tidak enak, kelihatannya dia sudah benar-benar memeriksa berkasku tapi belum ada. Tiga kali keluar masuk keruang dalam lagi-lagi cuma bilang intadzir qolilan. Jantungku berdetak kencang, semakin kencang. Bagaimana tidak, berkas yang aku minta seharusnya langsung dikasihkan tapi belum ditemukan. Ada dua kemungkinan, bisa jadi berkas sudah dikirim tapi petugas enggan memberikan karena aku pindah kampus yang berbeda instanai. Belum ada mahasiswa Indonesia memiliki pengalaman sepertiku. Dulu pernah ada salah satu mahasiswa yang perbah mencoba tapi ditengah jalan menyerah, disamping urusannya dipersulit juga tidak diperbolehkan. Pihak AMCI hanya mau mengurusi berkas yang masuk jika masih dibawah Ta'limul 'Ali (Menteri Pendidikan) dan enggan mengurusi berkas lain yang masuk dari instasi berbeda yaitu Wizarah Auqof (Menteri Perwakafan). Kebetulan aku pindahan dari wizarah auqof. Kedua, bisa jadi berkasku belum dikirim, itu hanya sekedar alasan pihak kementrian pendidikan saja yang tidak enak dengan pihak KBRI yang tiap hari selalu menanyakan perkembangan berkasku.

Dua jam sudah aku menunggu, sekitar satu jam lebih Arif menemaniku setelah selesai melihat pengumuman.

"Oya bagaimana dengan urusan kamu, jadi keterima di hay kan?" Tanyaku sambil menunggu panggilan  dari petugas.
"Tahun ini saya tidak bisa ndaftar hay lagi"
"Loh kenapa?"
"Gak tahu padahal tahun kemaren saya juga tidak bisa masuk, sekarang tidak bisa lagi."
"Tadi kamu sudah lihat pengumumannya?"
"Sudah dan nama saya tidak ada dalam deretan nama-nama yang berhak mendapatkan hay tahun ini"
"kamu sudah coba meloby ?"
"Sudah tapi tetap saja tidak bisa, tadi kata salah satu petugas bilang saya tidak mungkin mendapatkan hay dan menyuruhku mencoba lagi tahun depan"
"Terus gimana rencana kamu, apakah mau menetap di sekretariat PPI atau mau mencari kos-kosan baru?"
"Kayaknya saya harus mencari kos-kosan baru, saya butuh tempat yang nyaman dan tenang untuk menyelesaikan skripsiku. Kemungkinan bulan februari saya baru ada waktu luang untuk mencari rumah baru."
"Baguslah kalau kamu memang haru mencari rumah baru biar skripsimu selesai dan bisa wisuda tahun ini. Semoga semuanya dipermudah."
"Amin ya rabbala alamin"

Kulihat jam di hp ku menunjukkan pukul 12.30, sebentar lagi waktu istirahat tiba. Para mahasiswa dari Negara lain datang berbondong-bondong memenuhi kursi antrian dibelakangku. Papan nomer antrian yang menggantung diatas meja petugas terus berubah, sekarang sudah beralih ke antrian nomer 015, aku masih mematung diatas kursi hitam bersama temanku. Petugas yang sedari tadi mencari berkasku belum juga keluar. Aku mencoba menghubungi  pihak KBRI untuk meyakinkan apakah ruhsohku benar-benar sudah dikirim apa belum.

"Maaf Kus, tenyata kata pihak kementrian pendidikan ruhsoh kamu belum sampai di AMCI karena orang yang ditugasi mengantar berkas teraebut lagi cuti sampai tanggal lima Januari. Gak usah khawatir nanti saya coba hibungi pihak kampus supaya kamu bisa ikut pelajaran dulu." Kata Pak Dedy lewat Hp.

Ternyata benar firasatku kalau berkasku belum terkirim, entah sudah berapa kali lagi-lagi aku menerima kenyataan pahit ini.  Lama menanti tapi belum juga ada kabar yang aku harapkan.

Selang beberapa menit pak Dedy menelfhonku lagi, menanyakan nomer ketua jurusan dikampus. Rencana ia akan menghubunginya dan meminta supaya saya bisa ikut ujian. Ia juga menjelaskan kalau berkasku sebetulnya sudah keluar hanya saja belum bisa diambil sekarang.

"Tuttt...tutt.." Hp ku bergetar lagi. Dari layar kaca ada panggilan masuk dari Staff KBRI Rabat bagian Konsuler.

"Halo mas kusnadi apa kabar?"
"Alhamdulillah baik pak"
"Oya mas untuk surat pengantar permohonan visa kamu sudah bisa diambil hari ini, silahkan datang ke KBRI sebelum jam satu siang."
"Baik pak, terimakasih atas informasinya. Tapi saya masih di AMCI mungkin agak telat datangnya."
"Kalau begiti saya titipkan ke satpam saja, jadi kamu bisa ngambil langsung ke satpam."
"Ok pak, terimakasih atas bantuannya."

Saat itu juga ku putuskan pergi ke KBRI mengambil surat pengantar permohonan visa, aku dan Arif berpisah. Ia mengambil taxi menuju secretariat PPI dan aku menuju KBRI Rabat di jalan Tariq Zair Kilometer Sitah. Sebetulnya caling visa yang aku dapatkan dari KBRI Den Haag sudah cukup kuat untuk mempermudah pembuatan visa, karena ini adalah pengalaman pertamaku jadi aku meminta surat pengantar dari KBRI Rabat agar prosesnya lebih dipremudah lagi. Ide itu juga berdasarkan masukan dari kawan-kawan yang pernah mengurusi visa Schengen. Ahh.. apapun itu, semua hal berkaitan dengan pengurusan visa akan aku lakukan,  supaya niatku bersilaturrahim dengan kawan di Belanda bisa terwujud. Alhamdulillah semua berkas sudah ku kumpulkan, selanjutnya tinggal menyerahkan berkas tersebut ke konsulat Belanda di Place Abraham Lincoln, Quartier Tour Hasan, Rabat. untuk lebih lengkapnya bisa lihat disini: http://morocco-kvv.embassytools.com/

Bersambung...:)
read more →

Day 2: Koreksi

Calling visa dari KBRI Den Haag
Hari itu, matahari dimusim dingin dengan gagahnya mentereng  diangkasa. sayang tak segagah diriku..ckckck. Aku merunduk disamping tembok sambil membungkukkan kepala menunggu petugas KBRI tiba, disamping ruang istirahat tamu aku menghindar dari terjangan matahari musim dingin. Topi hitamku hanya mampu melindungi kepala, sementara leher dan punggungku tidak bisa menghindar dari sinarnya. Seharusnya gak perlu menghindar, sinarnya yang panas dapat menghangatkan tubuhku yang beku. Karena banyaknya kuman ditubuhku tak kuat menahan panasnya sang surya satu persatu menggigit tubuhku yang jarang tersiram air :D. Ahirnya terpaksa kupilih berteduh dari pada tubuhku diamuk seperti digigit semut..*krembit..krembit hehe.

Asap rokok terus mengepul dari mulutku menyeruakan aroma kehangatan, sebungkus rokok marquise adalah satu-satunya teman sejatiku. Kemana kaki melangkah ia selalu dalam apitan dua jariku. Lima menit kemudian aku masuk keruang tunggu KBRI, tak lama kemudian petugas mendatangiku dan membawa berkas permohonan yang aku ajukan yaitu surat pengantar pembuatan visa. Lima menit kemudian ia kembali datang membawa surat yang aku kasihkan.

"Maaf mas, tolong tanggalnya diperbaiki lagi yah" kata petugas sambil menunjuk tanggal, bulan dan tahun yang tertera dalam calling visa.

"Astaghfirullah" gumamku sambil menepuk jidat. Bukan hanya pada calling visa, surat permohonan yang aku buatpun keliru dalam penulisan tahun, seharusnya 2015 aku tulis 2014." Kacau, benar- benar kacau, kayaknya harapan untuk bisa pergi ke Belanda semakin menipis" Pikirku.

Sekuat tenaga berusaha menepis keraguan itu tapi tetap saja tidak bisa, melihat kenyataan yang ada dan beberapa persyaratan lainnya yang belum bisa dilengkapi semakin meyakinkanku bahwa semuanya tidak akan bisa berjalan lancar.

Mulai dari kabar acara yang mendadak, ditambah salah satu delegasi yang masa aktif paspornya akan berahir, banyaknya persyaratan yang belum dipenuhi dan lebih mencengangkan lagi ada kesalahan dalam penulisan bulan dan tahun pada calling visa.

Diluar pintu masuk kedua kakiku bingung menentukan arah, sejenak aku berdiri menarik nafas dalam-dalam. Tanpa pikir panjang aku nemutuskan kembali ke sekretariat PPI Maroko, setelah sampai di halte bus aku teringat ada janji dengan Mas Bowo di KBRI untuk mengambil titipan temanku. Kuurungan niatku kembali ke sekretariat PPI dan terpaksa kembali lagi ke KBRI. Sengaja aku tidak langsung masuk ke KBRI, aku lebih memilih berteduh dibawah pohon didepan ruang satpam. Tak banyak yang aku lakukan kecuali berdiri dan mondar-mandir sambil menuliskan kejadian ini untuk mengusir kegalauan.

Sambil menulis aku juga mengirimkan pesan via email ke kedutaan Den Haag, mengabarkan kejadian tadi. Aku meminta suapaya segera diperbaiki sehingga bisa mempercepat proses penguruasan visa. Jalanan sore itu tampak sepi, iringan awan gelap mengelantung dilangit. Suasana saat itu menambah kalut hatiku, sampai tak sadar orang yang aku tunggu sudah masuk kedalam kantor.

"Kusnadi, ngapain berdiri distu terus?" Tanya pak Kadir dengan logat bahasa indonesianya yang sedikit medok. Ia adalah warga Maroko yang sudah puluhan tahun lebih bekerja di KBRI Rabat.

"Menunggu Mas Bowo"
"Mas Bowo sudah ada didalam, silahkan masuk".
"Benar pak?"
"Iyaa, itu mobilnya disamping kamu".

Kegelisahan yang begitu membuncah membuat konsentrasiku hilang. Sampai-sampai suara mobil yang lewat didepanku tidak terdengar, bahkan ketika mobil itu terpakir disampingku pun aku tak melihatnya. Maklum ini adalah pertama kalinya aku mengurus visa ke Eropa, setiap kali mau mengurus harus banyak tanya dan pertimbangan dari kawan-kawan lain yang sudah pernah ke Eropa agar tidak terjadi kesalahan. Apalagi kabarnya pengurusan visa di konsulat Belanda sangat ketat jadi persyaratan harus benar-benar komplit sebelum diserahkan.

Usai Mas Bowo mengasihkan titipan buat temanku, ia memintaku bantuan untuk mencarikan hotel didekat kawasan Bab Ahad. Katanya tanggal 15 Januari akan ada 4 orang dari Indonesia yang akan berkunjung ke Maroko.

"Klentung.." Tiba-tiba ada satu pesan menyelusup ke emailku. Pesan itu datang dari Pak Nus Hasyim, salah satu staff kedutaan Den Haag. Judul pesan itu adalah "koreksi" dengan melampirkan file pdf satu lembar. Ternyata itu adalah koreksi calling visa yang aku minta.
"Alhamdulillah, tidak sampai dua jam sudah diperbaiki, kinerja yang luar biasa" ucapku lirih.

Segera aku print dan mengedit surat permohonan yang tadi keliru. Ku keluarkan stempel dari tas gendongku, ku buka kotak tinta biru dalam bungkusan kresek hitam yang kutaruh didalam tasku. Setelah menyetempel langsung aku kasih tanda tangan dan menyerahkan surat permohonan tersebut ke petugas bagian konsuler. Petugaspun terlihat kaget, pasalnya dalam waktu sesingkat itu pihak kedutaan Den Haag sudah memperbaikinya. Setengah jam menunggu ahirnya jadi juga surat pengantar dari KBRI Rabat. Sore itu, aku langsung bergegeas menuju halte bus menerobos hujan rintik-rintik, meski surat pengantar dari KBRI Rabat bia kuambil besok hari hatiku sedikit plong karena sudah mendapatkan surat keramat, besok tinggal meluncur ke konsulat Belanda didekat area makam Raja Mohammed V. Terimakasih ya Allah .:)

Bersambung: http://seribubenteng.blogspot.com/2015/02/day-2-suart-pengantar-kbri-rabat.html
read more →

Puisi Untuk Pak Tosari Widjaja



Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Namun, acap kali perpisahan dikambing hitamkan manakala waktu perpisahan itu datang, bukankah seharusnya pertemuan yang disalahkan? Pertemuanlah yang menyebabkan perpisahan.
Ada makna terpenting dalam sebuah hubungan kekeluargaan atau persaudaraan yang terkadang kita kerap melupakannya dan baru sadar ketika waktu perpisahan tiba. Yaitu moment-moment yang telah kita lakukan setelah pertemuan sampai sebelum datang perpisahan. Moment-moment yang mengajarkan kita arti kehidupan, bukan sekedar take and give, bukan sekedar mengendalikan ego, bukan sekedar toleransi tapi jauh lebih dalam dari itu semua.
Moment-moment itulah yang menjadikan keberadaan seseorang yang meninggalkan kita terasa dekat dihati walau terpisah raga, ruang dan waktu. Setiap tutur katanya, perilakunya, kedekatannya menjadi inspirasi dan penyemangat untuk membuka lembaran baru bagi yang ditinggalkan. Dan pada hakekatnya kita tidak berpisah karena adanya keterkaitan hati. Moment-moment itulah yang menjadikan kami serasa selalu dekat dengan Bpk Dubes Tosari Tujuhpuluh meski esok ruang dan waktu akan memisahkan kita.
Sebuah persembahan puisi berjudul "Teruntuk Engkau Pak Tosari" karya Risky Muhammad Hamzar. Meski suaranya kurang mendukung setidaknya bisa mewakili moment ini. 
KBRI Rabat, 7 November 2014.
read more →
Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2PokS4tPJ