• Coretan Dari Negeri Senja
  • Doing The Best
  • Maroko Dirikan Sekolah Medis Berbasis Bahasa Inggris

Tram Way di Rabat, Transportasi Lokal Yang Wajib Kamu Coba


Sejak diresmikannya transportasi lokal Tram Way pada 23 Mei 2011, jumlah penumpangnya terus meningkat hingga sekarang. Transportasi ini menjadi andalan dan kebanggan masyarakat Maroko, memilki pelayanan yang baik dan harga yang terjangkau. 

Setelah lebih dari lima tahun beroperasi, jumlah pelanggan aktif per bulan telah meningkat menjadi 17.000, dimana 50% adalah para pelajar. Karena kepercayaan masyarakat Maroko yang tinggi terhadap pelayanan transportasi ini, Pemerintah Maroko menurunkan harga tiketnya dari 7 dirham (9.900 rupiah) sekarang menjadi 6 dirham (8.500). Pembayaran bisa menggunakan cash atau kartu elektronik.

Transportasi ini juga meneyediakan kartu langganan dengan masa berlaku ada yang satu bulan, tiga bulan, setengah tahun dan paling lama satu tahun. Kartu berlangganan bersifat pribadi dan tidak dapat dipindahtangankan. Keunggulan kartu langganan tersebut disamping harganya lebih murah, kita bisa menggunakannya kapan pun sampai masa berlakunya habis. Khusus bags para pelajar yang memiiki karate langganan mendapatkan harga spesial (lebih murah).


Rencananya pemerintah Maroko akan menambah dua jalur lagi yaitu jalur 3 dan jalur 4 (Line 3 dan Line 4) dan pada awal 2018. Hingga saat ini trasnportasi ini memiliki dua jalur yang bersebelahan yaitu jalur 1 dan jalur 2 (Line 1 dan Line 2) dengan total 31 statiun (pemberhentian).

Saat ini Tram Way baru di operasikan di dua kota wisata terbesar di Maroko, Casablanca dan Rabat. Sementara di Rabat menghubungkan dengan kota Sale. 

Untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di kota Rabat dan Casablanca, para wisatawan bisa menggunakan trasportasi ini. Dengan membayar 6 dirham para wisatwan bisa mengelilingi kota Rabat atau Casablanca sepuasanya. Pengeluarannya juga lebih ngirit di bandingkan dengan menggunakan transportasi lokal lainnya, seperti taxi. 


read more →

CTM, transportasi paling nyaman di Maroko


Maroko menyediakan beragam jenis transportasi khusus baik dalam kota maupun luar kota. Jika Anda ingin melakukan perjalanan wisata di Maroko pastikan transportasi yang di gunakan aman dan nyaman. 
Dari sekian banyak transportasi umum antar kota yang tersedia di Maroko. Ada sebuah perusahaan transportasi bus antar kota yang paling nyaman dan memiliki fasilitas komplit yaitu bus CTM (Compagnie de Transports au Maroc). 
Perusahaan transportasi ini memilki menejemen yang professional. Dengan menggunakan Bus CTM perjalanan Anda akan terasa lebih leluasa, aman, nyaman, bebas dari calo dan on time. 
Bus CTM memilki fasilitas lebih banyak di dibanding transportasi Bus umum lainnya yang berada di Maroko. Di setiap stasiun/terminal CTM terdapat loket penjualan tiket yang rapi di lengkapi dengan ruang tunggu yang luas, bersih dan terdapat askes internet (WF) gratis. Selain itu didalamnya juga terdapat Caffè, WC dan colokan listrik untuk mencharger HP. 
Ada dua jenis layanan yang ditawarkan, yaitu kelas ekonomi dan kelas premium. Bedanya kelas premium harganya lebih mahal sedikit (naik setengah harga dari kelas ekonomi) dengan tambahan fasilitas WF di dalam bus, kursinya lebih besar, mendapatkan snack, satu botol air mineral dan koran.
Bus CTM juga menyediakan layanan perjalanan tujuan Eropa yaitu Spanyol, jadi kita bisa ke Spanyol dari Maroko dengan mengggunakan bus CTM melewati jalur laut dengan menaiki kapal Ferry. 
Selain itu perusahan CTM juga melayani jasa pengiriman barang ke antar kota. Kantornya tersebar di berbagai kota Maroko dan sangat mudah di jumpai.
Untuk mengetahui terminal bus CTM terdekat sangat mudah, bisa di lihat di map melalui internet. Anda juga bisa melihat harga dan jadwal pembrangkatan dan kedatangan dengan membuka website resminya di ctm.ma.
Meski secara umum harganya lebih mahal sedikit di banding transportasi bus umum lainnya, namun masyarakat Maroko lebih memilih menggunakan bus CTM. Alasannya, disamping pelayanannya yang bagus dan memilki fasilitas komplit juga karena tepat waktu dan nyaman. 
Perusahaan transportasi CTM adalah milik pemerintah Kerajaan Maroko sejak tahun 1956 dan termasuk perusahan tertua di Maroko.
Bus CTM ini sangat recommend banget buat Anda yang sedang kebingungan mencari jenis transportasi yang ingin digunakan ketika berada di Maroko. Dari kota Casablanca ke kota Rabat hanya 30 Dirham atau 42. 600 rupiah.


read more →

Syeikh Ahmad at Tijani & Korelasi Toriqoh Tijaniyah dengan Kerajaan Maroko


Sangatlah pantas jika gelar “Negeri para ulama” itu disandang oleh Maroko. Terutama ulama-ulamanya yang menonjol dalam dunia tasawwuf. Lihat saja, berapa banyak aliran toriqoh yang berkembang di Negeri yang bermadzhab Maliki tulen ini. Ada Toriqoh Tijaniyah, Syadziliyah, Masyisyiyah, Siddiqiyah, Kattaniyyah, Darqowiyah dsb.
Alhamdulillah untuk kesekian kalinya kami berkesempatan menziarahi salah satu makam ulama kharismatik yang merupakan pendiri Toriqoh Tijaniyah yang bearada di kota Fez yaitu Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Hassani atau lebih dikenal dengan Syeikh Ahmad at Tijani. 
"Syeikh Ahmad at Tijani"
Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Hasani lahir pada Hari Kamis, 13 Shafar 1150 H. di ‘Ain Madhi atau disebut juga dengan Madhawi, di Sahara Timur Maroko (kini bernama Aljazair). Penyebutan at Tijani merupakan nisbah kepada suatu daerah terkenal bernama Tijanah, kabilah Tijanah adalah keluarga syeikh Ahmad at Tijani dari pihak ibu beliau dan pada kabilah inilah lebih dikenal sebutan marga beliau sehingga lazim disebut dengan " Tijani " sedangkan kata " Al madhawi " merupakan nisbah kepada ‘Ain Madhi, suatu desa terkenal di sahara timur Maroko tempat beliau di lahirkan. Dari keluarga besar/Kabilah Tijanah ini kemduian banyak melahirkan ulama-ulama dan wali-wali yang shaleh.
Dalam kitab-kitab toriqoh Tijaniyah juga diterangkan bahwa Syeikh Ahmad at Tijani beberapa kali bertemu dengan Rasulullah dalam keadaan terjaga bukan dalam keadaan mimpi. Dalam pertemuan itu, Syaikh Ahmad at Tijani mendapatkan bimbingan dari Rasulullah termasuk bacaan wirid yang dibaca oleh para pengikut Tijaniyah, yaitu wirid Lazimah, Wadhifah dan Hailalah.
Ketika Syeikh Ahmad bin Muhammad berusia 50 tahun. Pada Bulan Muharam, tahun 1214 H Syeikh Ahmad bin Muhammad telah sampai pada martabat Al-Quthub AL-Kamil, Al-Quthbul Al-Jami’ dan Al-Quthbul Udzhma. Pengukuhan ini dilakukan di Padang Arafah, Makah Al-Mukaramah.
Pada tahun yang sama, hari ke-18 Bulan Shafar, Beliau dianugerahi sebagai Al-Khatmu Al-Auliya Al-Maktum (Penutup para wali yang tersembunyi). Hari inilah yang kemudian diperingati oleh Jamaah, Ikhwan, dan para muhibbin Thariqat Tijaniyah sebagai Idul Khatmi. Beliau meninggal di Fez, Maroko, tahun 1230 H.
Umat Islam dari seluruh wilayah Afrika Barat dan penganut Toriqoh Tijaniyah sering mengunjungi komplek makam Syeikh Ahmad at Tijani yang berada di sudut Kota Fez, Maroko. Kota yang berusia 12 abad ini dikenal sebagai ibukota spiritual Maroko. Tak heran bila jutaan orang dari Senegal, Mali, Niger, dan Nigeria datang ke kota itu untuk berziarah ke makam Syeikh Tijani. Termasuk dari Indonesia pun banyak yang menziarahi makamnya terutama dari para pengikut Toriqoh Tijaniyah.
"Korelasi Toriqoh Tijaniyah dengan Kerajaan Maroko"
Jika kita telisik lebih dalam antara tarekat Tijaniyah dan Negara Maroko, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Simbiosis mutualisme ini sudah terbentuk sejak rezim Sultan Moulay Sulaiman (W. 1238 H) dengan sang pendiri tarekat Tijaniyah. Sosok pemimpin Negri 1000 benteng ini memang sejak dahulu cinta kepada para ulama. Disamping nasab keduanya yang berujung pada Maulana Muhammad (Nafs az Zakiyah) bin Sidi Abdullah al Kamil bin Sidi Hasan as Sibth bin Sidi Hasan al Mutsanna bin Sidi Ali dan Sayyidah Fatima az Zahra binti Rasulullah Saw., Sultan Moulay Sulaiman juga mengakui kewalian Syekh Ahmad Tijani lebih tinggi dari semua ulama yang ada pada zaman itu. 
Terbukti, rasa syukur yang tiada duanya saat Moulay Sulaiman meminta kepada Syekh Ahmad Tijani agar dapat bertemu Rasulullah Saw. dalam keadaan terjaga (bukan mimpi), dengan izin Allah Swt permintaan tersebut terkabulkan. Sejak peristiwa inilah perhatian dan rasa kasih Moulay Sulaiman kepada Syekh Ahmad Tijani begitu dekat. Dan diangkatlah Syekh Tijani menjadi salah satu penasehat kerajaan dan diberi tempat tinggal (Dar al Miraya) di kota Fes untuk majelis pengajian. Hal ini pun masih berlaku dalam sistem birokrasi Negara Matahari Terbenam tersebut, yang menempatkan posisi khalifah tarekat Tijaniyah; Syekh Muhammad al Kabir sebagai salah satu penasehat Raja Muhammad VI. 
Adapun nasab Raja Muhammad VI adalah sebagai berikut: Muhammad VI bin Hasan II bin Muhammad V bin Yusuf bin Hasan I bin Muhammad bin Abdur Rahman bin Hisyam bin Muhammad III bin Yusuf bin Hasan bin Muhammad bin Abdur Rahman bin Hisyam bin Muhammad bin Abdullah bin Ismail bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Yusuf bin Ali bin Hasan bin Muhammad bin Hasan bin Qasim bin Muhammad bin Abu Qasim bin Muhammad bin Hasan bin Abdullah bin Abu Muhammad bin Arafah bin Hasan bin Abu Bakar bin Ali bin Hasan bin Ahmad bin Ismail bin Qasim bin Muhammad (Nafs az Zakiyah).
Sedangkan nasab Syekh Ahmad Tijani yaitu: Syekh Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim bin Abi al Ied bin Salim bin Ahmad (al Ulwani) bin Ahmad bin Ali bin Abdellah bin Abbas bin Abdul Jabbar bin Idris bin Idris bin Ishak bin Ali Zaenal Abidin bin Ahmad bin Muhammad (Nafs az Zakiyah).
Dengan demikian historisitas tarekat Tijaniyah dengan Negara Maroko sangatlah erat hubungannya, serta berperan penting dalam penyebaran tarekat Tijaniyah karena antara Ulama dan Umaro’nya seirama dalam satu tujuan yang mulia yaitu menegakkan pilar-pilar agama islam melalui jalan Tasawuf.

____________________________________________________________________
Min A’qab al Bidl’ah al Muhammadiyah at Thohiroh.
Al Fathu ar Rabbani.
Jawahirul Ma’ani, Sayyid Ali Harazim bin Arabi.
Bughyatul Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi.
Maroko Negeri Seribu Benteng.
Tarekat Tijanniyah Perspektif Amaliah dan Ilmiah.
read more →

Karpet Berber Maroko

Moroccan Berber Carpet

Ada banyak hal menarik dan unik yang bisa di temukan di Maroko. Seperti daerah yang terdapat di kawasan selatan Maroko, disinilah mayoritas warga asli Maroko (BERBER) menetap. Mata pencaharian mereka selain berkebun kurma yaitu membuat karpet khas berber dengan cara tradisional. Pekerjaan tersebut merupakan peninggalan nenek moyang dan para leluhur mereka yang sampai sekarang terus terjaga dan dilestarikan.

Maroko merupkan negara Afrika Utara yang memiliki populasi Berber terbesar dan merupakan salah satu produksi karpet Berber yang paling produktif saat ini. Dengan di pandu seorang guide, pengunjung diantar menuju salah satu rumah penduduk berber yang didalamnya terdapat tempat produksi tenun berber.

Ketika sampai di tujuan, kemduian pengunjung dipersilahakn berkumpul didalam satu ruangan. Sang penjual karpet dengan pakain khas berber, mulai menjelaskan mengenai bahan dasar yang digunakan serta motif dan pilihan warna yang menarik. Melihat karpet berber Maroko terasa seperti melihat karpet seabad silam yang lalu.

Karpet yang dibuat oleh suku Berber yang hidup di wilayah Pegunungan Atlas bentuknya lebih tebal dan berat, sedangkan karpet yang dibuat oleh suku berber yang tinggal di padang pasir lebih ringan dan datar. Karpet tersebut bisa untuk penghias dinding ruangan, lantai, penutup meja, alas kaki, sajadah dan penutup tempat tidur.

Suku Berber Selatan seperti yang ada di wilayah “Dades Gorges” ini, dianggap memiliki tenun paling bagus kualitasnya. Karpet berber dari daerah ini dibuat dengan anyaman datar dan campuran tekstil yang berbeda untuk menciptakan desain, pola, dan tekstur yang unik. Anda akan menemukan beberapa pola dan desain yang digunakan pada permadani berber vintage.

Ada penenun yang membuat desain yang menggambarkan salib, pelega tenggorokan, segitiga dan bentuk sederhana seperti berlian. Warna karpet tradisional mulai dari warna merah,  putih, coklat dan nuansa hitam muda.

Wal digunakan sebagai bahan dasarnya, sedangkan Saffron digunakan untuk membuat warna kuning, henna digunakan untuk membuat warna merah. Biru diciptakan dari nila dan hijau didapat dari mint liar. Untuk harga tergantung bahan, ukuran dan proses pembuatannya.


By : Kusnadi El Ghezwa



read more →

Lengkingan Nefar Tandai Ramadhan di Maroko



REPUBLIKA.CO.ID, MARAKESH -- Maroko punya cara unik dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Seorang warga akan keluar rumah dan berjalan-jalan di sekitar rumahnya sambil meniupkan terompet nefar sebagai tanda menyambut awal dan akhir Ramadhan.
Namun sayangnya, tradisi lekingan nefar terancam punah digerus zaman. Tradisi tersebut nyaris punah di kota-kota besar seperti kota Marakesh.
"Ini benar-benar sedih melihat tradisi-tradisi itu pergi," kata Abdessamad Ali, warga Maroko yang tinggal di AS sejak 1999, seperti dikutip Onislam.
Ali masih mengingat suara khas nefas. Berbentuk kurus nan panjang, nefar mengeluarkan bunyi yang nyaring khas bunyi terompet pada umumnya.
Jennifer Wickens, seorang Muslim Kanada yang tinggal di Maroko selama setahun pada 2008, pun sangat mengenang bunyi lengkingan nefar.
"Bunyi-bunyian akan datang melalui jalan-jalan sekitar dua jam atau lebih sebelum tiba waktunya untuk memulai puasa," katanya
"Bunyi itu cukup untuk membangunkan Anda sehingga Anda bisa menghangatkan makanan dan duduk bersama untuk memakannya,'' kata Wickens. ''Iramanya sungguh indah.''
Tapi, tradisi Ramadhan di Maroko tidak hanya ditemani oleh lengkingan nefar. Bubur Harira, makanan tradisional masyarakat Maroko, menjadi hidangan khusus berbuka puasa.
Dengan aroma rempah-rempahan, bubur harira sangat kental dengan rasa tomat segarnya. Disajikan bersama telor rebus dan sedikit jintan, bubur harira menjadi makanan tradisi khas Ramadhan bagi masyarakat Maroko.
read more →

Ramdhan di Maroko

Di Maroko memang ada aral yang lumayan berat yang tidak pernah dirasakan sebelumnya ketika berada di Tanah Air. Hal ini dirasakan sama dengan mahasiswa Indonesia di negara Teluk, Afrika, Eropa, dan Amerika pada umumnya yaitu panjang waktu puasanya kisaran 17 jam. Itupun harus menghadapi teriknya musim panas yang suhunya mencapai lebih dari 40 derajat celcius.
Kendala terbesar yang bisa dirasakan ketika Ramadhan tiba dengan hadirnya suhu yang sedemikian rupa yang membuat rasa dahaga bagi seorang Muslim yang sedang berpuasa.
Meski demikian, mahasiswa Indonesia di Maroko yang bernaung di bawah Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) menjadikan bulan ini sebagai bulan silaturrahim. Khususnya liburan musim panas sekaligus Ramadhan dan Idul Fitri, ataupun liburan Idul Adha.
PPI Maroko mengadakan banyak program aktivitas, di antaranya seminar Internasional yang dihadiri ulama nusantara atau ulama Maroko, pertandingan olahraga antarmahasiswa dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand, juga kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat edukatif, kreatif, dan sosial, serta berbuka puasa bareng dan pelaksanaan shalat ied di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang beralamat di 63, rue beni boufrah, rute des zaires klm 5,9 Souissi Rabat Morocco.
Merasakan nuansa bulan suci Ramadhan di negeri orang memang memiliki kespesifikan dan daya tarik tersendiri. Menghayati bagaimana kita bisa mempelajari budaya orang yang penuh warna dan mencicipi kelezatan kulinernya, serta hal yang paling urgen yaitu bisa meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan dengan aroma autentik Islam Arab bersama masyarakat Maroko tulen yang ramah.

Keunikan Malam Lailatul Qadar
Fenomena malam Lailatul Qadar tentunya tak kalah heboh bagi Masyarakat Maroko. Di sana kegembiraan menyambut "Malam Seribu Bulan" itu bak menyambut tamu agung. Cowok dan cewek mengenakan jalabah (busana muslim tradisional Maroko, sejenis jubah atau gamis dengan penutup kepala).
Jalabah itu biasanya dikenakan pada malam ganjil di akhir bulan Ramadan, yaitu pada malam ke-27 untuk jalan kesana-kemari dari masjid ke masjid dan berjalan-jalan di keramaian malam hingga larut malam. Momen ini dimanfaatkan banyak fotografer untuk mencari rezeki. Tak sedikit pemakai jalabah ingin diabadikan dengan kilatan kamera.
Selain itu, ada tradisi makan kuskus di malam itu. Ada juga tradisi mencari berkah Ramadan khusus di tiga hari terakhir bagi gadis-gadis Maroko sambil berharap mendapatkan jodoh yang baik di kemudian hari, dengan mendatangi tenda-tenda hias yang dibuat di halaman rumah-rumah mereka, untuk sekedar berpose di depan kamera dan mempercantik diri mereka dengan Henna (daun pacar), hiasan khusus bangsa Arab.
Ketika Ramadlan sampai pada malam ke-27, orang Maroko biasanya mengadakan ritual khusus, yaitu berjaga malam di masjid-masjid dengan melakukan shalat-shalat sunah hingga fajar untuk mengejar Lailatul Qadar. Bahkan, kadang mereka membawa bekal makan sahurnya ke masjid.

Tradisi Lebaran Di Maroko
Ketika kita berbicara mengenai lebaran, tentunya masing-masing orang mempunya persepsi yang berbeda, mulai dari proses penyambutan, tradisi-tradisi yang ada sampai pada pola hidup masyarakatnya. Kalau kami boleh bercerita perihal lebaran di tanah Maghrib ini sangat jauh berbeda dengan di tanah air, seperti tidak ada takbir keliling di malam takbiran, apalagi sampai pesta petasan atau kembang api.
Yang jelas, malam takbiran di sini terlihat biasa-biasa saja, tidak ada kemeriahan atau kegiatan yang spesial. Kami justru lebih merasakan khusu’ dan khidmat akan suasana yang tenang di sini, karena bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah tanpa mengedepankan simbol-simbol, kesan meriah, melainkan lebih kepada esensi malam takbiran itu sendiri. Terlebih lagi, bisa menjadi bahan renungan kami bersama, karena jauh dari orang-orang yang kita cintai dan handai taulan.
Hari raya idul fitri di Maroko memang terlihat biasa-biasa saja, seperti layaknya hari-hari biasa. Jalanan pun terlihat sunyi-sepi. Mungkin bagi masyarakat Maroko ini sudah menjadi tradisi. Tapi anehnya, justru hari raya Idul Adha di sini lebih terasa dan ramai. Bahkan setiap kepala keluarga memotong hewan Qurban, kebanyakan berupa kambing. Idul Fitri bagi mereka adalah Idul Ashgor (hari raya kecil), sedangkan Idul Adha adalah Idul Akbar (hari raya besar).
Satu hal lagi yang menarik disini, yaitu tidak ada fenomena mudik yang cukup ramai seperti di Indonesia. Walaupun memang ada sebagian orang yang mendatangi sanak saudaranya hanya sekedar untuk berkumpul. Mendekati lebaran, secara otomatis biasanya tarif transportasi melonjak tinggi hingga 30 % dikarenakan ada beberapa orang yang hendak berpergian.

Makanan khas Idul Fitri
Setiap negara yang masyarakatnya merayakan Idul Fitri, biasanya memiliki makanan khas hari raya. Makanan tersebut hanya disajikan ketika perayaan Idul Fitri untuk menyambut sahabat dan keluarga yang bersilahturahim. Ritual ini juga berlaku di salah satu negara kerajaan di Afrika bagian utara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Maroko.
Selepas melaksanakan shalat Idul Fitri, mereka mengadakan sarapan bersama anggota keluarga dengan menu tradisional, dikenal dengan sebutan Milwi. Ada juga menu sarapan yang lebih modern, yaitu Halawiyat (roti dan kue berbentuk cantik). Tetapi, menu milwi merupakan makanan wajib di Maroko saat perayaan Idul Fitri, meskipun ada Halawiyat, Milwi tetap tersaji. Sedangkan makanan khas Idul Fitri di Maroko adalah Dajaj Muhammar,
yaitu ayam panggang yang disajikan dalam piring besar dan dimakan bersama-sama anggota keluarga lainnya. Setelah itu, biasanya seluruh keluarga menikmati Attai.

Usai menyantap sarapan, acara selanjutnya adalah bersilahturahim. Para pria biasanya mengenakan pakaian tradisional Maroko yang disebut Djellaba2, lengkap dengan sandal tradisional. Kaum wanitanya mengenakan Kaftan dan juga sandal tradisional khas Maroko yang sangat cantik.

Sumber: Buku Maroko Negeri Ekdotis di Ujung Barat Dunia Islam.
read more →
Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2PokS4tPJ